Mengenal Lebih Jauh Keberhasilan Transplantasi Rahim di AS

Transplantasi Rahim

Memiliki seorang anak merupakan dambaan bagi kebanyakan wanita, namun karena alasan tertentu seperti tidak memiliki rahim sejak lahir, terkena kanker atau penyakit lainnya sebagian wanita menjadi tidak dapat mengandung seorang bayi. Namun dengan kemajuan teknologi di dunia medis saat ini, seorang wanita tanpa rahim pun dapat mengandung seorang bayi dengan cara melakukan transplantasi rahim.

Pertama kali di Amerika Serikat, seorang wanita dengan rahim hasil transplantasi melahirkan seorang bayi laki-laki pada November 2017 lalu. Wanita tersebut mendapatkan rahim dari seorang pendonor di Baylor University Medical Center, Dallas. Wanita itu merupakan salah satu dari delapan wanita yang melakukan uji klinis transplantasi rahim dan merupakan wanita keempat yang menerima transplantasi di Baylor, pada bulan September 2016 lalu.

Menurut Dr. Giuliano Testa, peneliti utama proyek penelitian dan kepala bedah transplantasi abdomen, dari kedelapan wanita tersebut baru satu wanita yang telah berhasil melahirkan seorang bayi. Lalu seorang wanita diantaranya sedang hamil, dua lainnya masih mencoba hamil dimana salah satu dari wanita tersebut mendapatkan rahim dari orang yang sudah meninggal. Empat wanita lainnya yang menerima transplantasi rahim, gagal setelah operasi sehingga rahim harus dikeluarkan.

Keberhasilan transplantasi rahim di Dallas tidak terlepas dari peran Dr. Liza Johansen yang merupakan ahli bedah transplantasi rahim. Sebelumnya, Dr. Johansen tergabung dalam tim Swedia yang telah sukses melakukan transplantasi rahim di Sahlgrenska University Hospital, Gothenburg, Swedia. Di rumah sakit tersebut sudah delapan bayi yang berkembang dalam rahim transplantasi telah lahir ke dunia. Dr Johansen berpendapat bahwa keberhasilan transplantasi rahim tidak terbatas hanya di Swedia saja.

Rumah sakit lain yaitu Cleveland Clinic juga mencoba melakukan transplantasi rahim pertama di Amerika Serikat pada bulan Februari 2016 lalu. Transplantasi rahim tersebut gagal setelah dua minggu karena adanya infeksi yang menyebabkan perdarahan yang mengancam jiwa pasien. Akhirnya rumah sakit tersebut melakukan operasi darurat untuk mengeluarkan rahim transplantasi itu dari tubuh pasien. Lalu rumah sakit tersebut menghentikan programnya untuk waktu yang lama. Namun kini, telah memulai ulang program tersebut.

Resiko dan Bahaya Transplantasi Rahim

Meskipun dapat memberikan harapan yang menjanjikan bagi wanita yang tidak dapat hamil karena tidak memiliki rahim sejak lahir maupun dikarenakan terkena kanker atau penyakit lain. Ternyata transplantasi rahim masih memiliki banyak kelemahan yang membuat prosesnya tidak selalu berhasil.

Saat ini, biaya untuk transplantasi rahim masih menggunakan dana penelitian. Kedepannya, jika transplantasi rahim dibuka untuk umum maka biayanya akan sangat mahal. Menurut Dr Testa, kemungkinan akan banyak wanita yang menginginkannya tapi tidak dapat membayarnya. Selain itu, proses transplantasi rahim rumit dan memiliki risiko kegagalan yang cukup besar bagi penerima dan pendonor. Pendonor menjalani operasi lima jam yang lebih kompleks dan mengeluarkan lebih banyak jaringan untuk menghilangkan rahim. Operasi transplantasi rahim dinilai lebih sulit dilakukan dibandingkan dengan transplantasi hati.

Selain itu, rahim transplantasi bersifat sementara. Wanita yang melakukan transplantasi rahim hanya bisa mengandung 1-2 orang bayi. Wanita yang melakukan transplantasi rahim pun harus terus menerus meminum obat penekan sistem imun untuk mencegah penolakan organ.

Kelemahan lain transplantasi rahim yaitu fertilisasi tidak dapat dilakukan secara alami. Hal itu disebabkan karena indung telur mereka tidak terhubung dengan rahim. Oleh karena itu, fertilisasi harus dilakukan secara in vitro.

Sebelum seorang wanita melakukan transplantasi rahim, mereka akan diberi perlakuan hormon agar ovariumnya melepaskan banyak sel telur untuk kebutuhan fertilisasi in vitro. Setelah fertilisasi in vitro berhasil dilakukan, selanjutnya zigot dibekukan. Jika wanita yang melakukan transplantasi masih muda dan sehat maka penanaman zigot ke dalam rahim dapat dilakukan beberapa bulan setelah operasi dan setelah terjadi proses menstruasi.

Wanita hamil dengan rahim hasil transplantasi  juga tidak dapat melahirkan bayi secara normal. Hal tersebut disebabkan karena rahim yang ditransplantasikan tidak boleh mendapatkan banyak tekanan. Selain itu, bayi yang berkembang pada rahim transplantasi lahir lebih cepat 8-4 minggu dari pada bayi yang berkembang dalam rahim normal.

Sumber : The New York Times