Hypergiant – Bintang Terbesar di Alam Semesta

Hypergiant – Bintang Terbesar di Alam Semesta

Apabila kita melihat ke langit pada malam hari, kita dapat melihat banyak bintang yang bersinar. Ada beberapa bintang yang lebih terang dan menonjol dibanding bintang-bintang lainnya. Untuk beberapa kasus, hal tersebut dikarenakan bintang-bintang itu cukup dekat dengan bumi. Sebagai contoh, bintang bernama Sirius hanya berjarak 8,6 tahun cahaya dari Bumi. Meskipun Sirius termasuk bintang berukuran sedang (namun masih 25 kali lebih bercahaya dibandingkan Matahari), bintang ini tampak sebagai bintang yang paling terang di langit. Ada juga bintang yang bersinar lebih terang karena memang demikian kenyataannya. Bintang paling terang kedua di langit, Canopus, berjarak 310 tahun cahaya dari Bumi dan 15.000 kali lebih terang dari Matahari.

Bintang-bintang seperti ini biasanya dikenal dengan nama supergiant karena memiliki massa 10 kali Matahari atau lebih, berevolusi dengan cara yang berbeda dari bintang bermassa rendah seperti Matahari, tinggal cepat, memboroskan bahan bakar nuklirnya dan memiliki umur pendek dengan ledakan supernova yang luar biasa. Bintang-bintang yang paling besar di antara semuanya, memiliki material dengan massa puluhan hingga ratusan kali Matahari merupakan bintang paling ekstrem yang diketahui, yaitu Hypergiant.

Bagaimana Hypergiant Terbentuk?

Semua bintang terbentuk dari gas dan debu. Proses pembentukannya sangat lama, mencapai jutaan tahun dan bintang akan mulai bersinar ketika mulai terjadi fusi hidrogen pada inti bintang. Hal tersebut terjadi ketika bintang berpindah ke periode waktu evolusi yang disebut urutan utama. Semua bintang menghabiskan banyak waktu hidupnya pada periode ini dan secara stabil melakukan fusi hidrogen. Semakin besar bintang, semakin cepat bahan bakarnya habis. Ketika bahan bakar hidrogen di dalam inti habis, bintang akan berevolusi menjadi bintang dengan tipe lain. Periode urutan utama tersebut berlaku untuk semua bintang. Perbedaan dari hypergiant terletak pada akhir hidupnya. Bintang-bintang seperti Matahari yang memiliki massa relatif rendah mati sebagai nebula planet dan massanya terbuang ke angkasa dalam bentuk gas dan debu.

Kematian hypergiant merupakan kejadian yang sangat luar biasa. Ketika bintang-bintang bermassa berat tersebut kehabisan hidrogen, mereka akan mengembang menjadi bintang supergiant yang sangat besar. Perubahan juga terjadi di dalam bintang, mulai terjadi fusi helium menjadi karbon dan oksigen. Proses ini membantu mereka menghindari keruntuhan, namun juga semakin membuat temperaturnya meningkat. Pada tahap supergiant, bintang berosilasi di antara beberapa keadaan. Bintang akan menjadi supergiant merah untuk sesaat, lalu ketika mulai terjadi fusi unsur lain pada inti dan bintang akan menjadi supergiant biru. Di antara kedua tahap tersebut, bintang dapat tampak sebagai supergiant kuning sebagai massa transisinya. Perbedaan warna yang demikian disebabkan karena bintang membesar menjadi ratusan kali radius Matahari pada fase supergiant merah, lalu menjadi kurang dari 25 kali radius Matahari pada fase supergiant biru. Pada fase-fase tersebut, bintang kehilangan massa sangat cepat dan oleh karena itu menyala sangat terang.

Salah Satu Bintang Hypergiant

Eta Carinae merupakan bintang yang ditemukan pada konstelasi Carina, yang berjarak 7.500 tahun cahaya. Awalnya, bintang ini diperkirakan memiliki 120-130 kali massa Matahari. Para ilmuwan berpikir bahwa Eta Carinae memiliki massa awal hingga 150 kali massa Matahari dan menjadi objek luar angkasa yang paling besar. Hal ini sangat berlawanan dengan ukuran aslinya yang hanya 24 kali Matahari. Cahayanya sangat terang, bervariasi antara satu juta dan lima juta kali Matahari. Sejak penemuannya oleh Edmund Halley pada tahun 1677, Eta Carinae menunjukkan ledakan periodik yang menghasilkan cahaya lebih terang.

 

Sumber: 

someinterestingfacts.net