Banner
Fenomena “ Time Crystal ” Akhirnya Ditemukan oleh Para Ilmuwan
Sains

Fenomena “ Time Crystals ” Akhirnya Ditemukan oleh Para Ilmuwan

Fenomena “ Time Crystals ” Akhirnya Ditemukan oleh Para Ilmuwan

Para ahli fisika dari Universitas Yale telah menemukan fenomena yang dinamakan “Time Crystals” atau secara literal dalam Bahasa Indonesia artinya adalah kristal waktu (bentuk jamak), yaitu suatu bentuk zat yang sewaktu-waktu dapat meledak saat terekspos medan elektromagnetik, dan justru ditempat yang tidak disangka seperti mainan anak kecil.

Penemuan ini merujuk pada teka-teka baru yang harus diselesaikan, seperti bagaimana Time Crystals itu dapat terbentuk. Kristal bentuk biasa termasuk Salt (kristal garam) atau Quartz (kristal kwarsa) adalah contoh dari bentuk 3D atau tiga dimensi. Atom di dalam kristal – kristal tersebut disusun dengan sistem yang berulang, dan sebenarnya hal ini sudah diketahui selama seabad lamanya oleh para ilmuwan.

Dilansir dari Science Daily, Time Crystals yang ditemukan pada tahun 2016 itu berbeda dengan yang baru saja diidentifikasi oleh para ilmuwan tahun ini. Bagian atom – atom kristal versi pertama berputar pada satu arah saja, dan dikatakan dapat berdetak, inilah yang disebut sebagai sebuah ledakan, dan Time Crystals ini terkunci pada bagian gelombang frekuensi tertentu.

Para ilmuwan mengatakan bahwa dengan memahami adanya fenomena Time Crystals dapat merujuk pada perkembangan kemajuan ilmu tentang atom, giroskop, dan pengukur magnet, serta penciptaan potensi dari kuantum teknologi.

Departemen pertahanan di Amerika baru saja mengumumkan sebuah program untuk mengalang dana bagi kebutuhan penelitian tentang Time Crystals ini. Penemuan baru ini dapat berlangsung berkat Universitas Yale tentunya, dimana dibagi menjadi dua macam penelitian, yaitu di Physical Review Letters dan di Physical Review B.

Penelitian ini merepresentasikan eksperimen yang mengamati suatu petunjuk rahasia, yaitu tentunya berhubungan dengan penemuan Time Crystals. Eksperimen yang dilakukan sebelumnya itu sempat menghebohkan perhatian banyak orang, serta media pemberitaan pada tahun – tahun lalu.

“Kami mencoba untuk mencari petunjuk rahasia tersebut dengan cara kami,” ucap Profesor Sean Barrett, salah satu ahli fisika di Universitas Yale. “Murid saya bernama Jared Rovny sudah mengembangkan monoammonium phosphate (MAP) bagi kristal – kristal tersebut dalam penelitian yang berbeda, jadi kami menyimpannya di laboratorium.”

Monoammonium phosphate MAP bagi kristal diketahui mudah untuk dikembangkan. Sean Barrett menambahkan, “Sebenarnya justru akan terdengar aneh jika kita menemukan Time Crsytals di dalam MAP.”

Kristal dapat tumbuh dengan cara yang cukup acak dan tidak teratur. Oleh karena itu, para peneliti mencoba menggunakan Nuclear Magnetic Resonance (NMR) untuk menyelesaikan misteri tentang Time Crystals ini.

“Pengukuran kristal yang kami lakukan cukup akurat kelihatannya, hal ini menunjukkan bahwa sebuah petunjuk dapat ditemukan, salah satunya dalam kristal kecil.”

Kejadian tak terduga lainnya akhirnya terjadi juga, “Kami sadar jika hanya melakukan pencarian tidak akan benar – benar diperlukan untuk membuktikan sistem yang memiliki ingatan kuantum tentang bagaimana suatu hal dapat terjadi,” ucap alumni mahasiswa Universitas Yale, Robert Blum yang juga tim penulis dalam penelitian tersebut.

“Hal ini membuat kami menggunakan gema dari Time Crystals untuk mengetahui koherensi yang tersembunyi, serta adanya tatanan kuantum dalam sistem,” ucap Robert Blum.

Sean Barrett juga mengingatkan, bahwa hasil penelitian yang dilakukannya bersama kelompok peneliti sudah digabungkan dengan eksperimen sebelumnya, dimana hal ini dapat menjadi teka-teki bagi para teoritikus yang mencoba memahami bagaimana Time Crystals dapat terbentuk.

“Masih terlalu dini untuk menyatakan hasil penelitian seperti apa untuk dijadikan teori atas terciptanya Time Crystals. Oleh karena itu, banyak orang akan mempertanyakan tentang fenomena sains ini dalam jangka beberapa tahun kedepan,” ucap Sean Barrett.

Lebih kerennya lagi, proyek penelitian ini di dukung oleh The National Science Foundation.

Banner