Berita

FDA Setujui Tes DNA untuk Deteksi Kanker di Rumah

FDA Setujui Tes DNA untuk Deteksi Kanker di Rumah

Baru-baru ini Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat menyetujui tes DNA sederhana yang dapat menginformasikan seseorang mengenai risiko terkena beberapa jenis kanker. Uniknya, tes DNA ini dapat dilakukan sendiri di rumah. 23andMe merupakan perusahaan pertama yang mengeluarkan tes menggunakan DNA dari air liur untuk menguji risiko terkena beberapa jenis kanker seperti kanker payudara ovarium dan prostat tanpa resep dokter di Amerika Serikat.

Tes tersebut menginformasikan mengenai risiko pada beberapa jenis kanker yang dimiliki seseorang terkait dengan tiga jenis mutasi pada gen BRCA1 dan BRCA2. Adanya mutasi pada gen tersebut meningkatkan risiko terkena kanker payudara, ovarium, dan, prostat. Namun demikian, tes ini hanya mendeteksi tiga dari lebih dari 1.000 mutasi BRCA yang diketahui, dan bukan gen BRCA secara umum.

Meskipun tes tersebut hanya mendeteksi tiga dari lebih dari 1.000 mutasi gen BRCA, mutasi pada gen tersebut terjadi pada sekitar 2 persen orang keturunan Yahudi Ashkenazi (timur Eropa). Menurut, seorang juru bicara 23danMe adanya mutasi pada gen tersebut menyumbang lebih dari 90 persen mutasi pada gen BRCA yang berbahaya pada populasi ini. Wanita dengan mutasi pada gen tersebut memiliki peluang antara 45 persen hingga 85 persen terkena kanker payudara pada usia 70 tahun. Sementara itu, pria dengan mutasi pada gen tersebut memiliki peningkatan risiko kanker payudara dan prostat.

Menurut CEO 23andMe, Anne Wojcicki, tes tersebut sangat penting bagi orang-orang tidak mengetahui riwayat kanker pada keluarga mereka. Hasil positif dari tes ini dapat memberikan kesempatan kepada kita untuk lebih memahami risiko kanker yang dimiliki dan bagaimana mengambil tindakan untuk mengurangi risiko tersebut.

Namun demikian, hasil tes tersebut tidak dapat digunakan untuk menentukan risiko terkena kanker secara keseluruhan. Selain itu, tes tersebut juga tidak dapat dijadikan sebagai pengganti pemeriksaan rutin medis dan tidak boleh digunakan untuk membuat keputusan medis. Hal itu disebabkan karena, kebanyakan kanker tidak disebabkan oleh mutasi genetik, dan yang dilacak dalam tes tersebut bukanlah mutasi BRCA yang paling umum.

Sumber: nytimes.com

 

Banner